Cerita Cinta Romantis Berpacaran I Love You Part 4 No ratings yet.

Cerita Cinta Romantis Berpacaran

“Jah! Jah liat deh jah Kak Firman Ganteng bangeeet!” 

Mimin berseru girang saat berhasil memotret Guru baru yang sedang mengajar adik kelas.

“Gantengan juga Mamat.”

Sahutku Santai. 

Mimin berdecak.”Matalo katarak dijah, Si Mamat itu gak ada ganteng-gantengnya!”

Aku mencibir mimin seraya memakan gorengan di halaman sekolah. Heran, Guru baru itu sama sekali terlihat biasa saja di Mata ku. 

cerita cinta romantis

“Gue denger katanya Kak Firman itu Mahasiswa di Kampus Ternama Jah. Lagi Magang disini.” Mimin duduk disampingku, ikut memakan gorenganku. “Idaman banget sih Kak Firman.”

Tambahnya.

“Pasti Pak Guru udah punya Pacar Min.” 

“Tau darimana lo?”

Mimin merenggut tak suka mendengar perkataanku. 

“Ya gak mungkin juga pak guru masih Jomblo, pasti di kampus juga banyak cewek yang ngejar kan? Kan?” 

Mimin mengerutkan kening menatapku lama. “Iya juga sih, Gimanadoong haaaaa!” mimin berteriak heboh. Aku terkekeh Geli. 

★★★☆★★★

“Selamat siang Semuanya.”

“Siang Kak!”

Aku melirik Mimin, ia terlihat bahagia karena Guru baru itu di jadwalkan mengajar di kelas kami Hari ini. Senyum Mimin mengembang setiap kali guru baru itu menerangkan pelajaran. 

“Apa kalian mengerti?”

“Mengerti Kak!”

Jawab kami serempak.

“Baik, Ada yang mau di tanyakan?”

Tawarnya.

Seketika itu semua siswi mengangkat tangan. 

“Saya pak!” 

“Gue duluan woy!”

“Gue!”

“Saya pak!”

“Saya!”

“Aku!” 

Seisi kelas mulai Riuh, berebut ingin mengajukan pertanyaan. 

“Diam semuanya.” Guru baru itu mengambil penggaris membuat seisi kelas mulai hening. “Kamu, Silahkan.” tunjuknya pada Mimin.

cerita cinta romantis berpacaran

“Tuhkan gue!” 

Seru mimin kegirangan.

“Iya kamu, Silahkan.”

Mimin melirik seluruh penjuru siswi. “Tolong jawab jujur, Kakak udah nikah atau Tunangan. Atau jomblo.” 

“Huuuuuu!”

Se isi kelas kembali riuh menyoraki pertanyaan Mimin. 

“Gila si Mimin berani banget.”

“Mewakili kita semua itu!” 

“Proud Mimiin wooo!” 

“Jawab kak.” 

Guru baru itu menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. “Saya Masih Single.”

“Aaaa! Jodoh gueee!”

“Halalin Dede Kak!”

“Nikah Yuk!”

“Huuuuuu!”

Ah Andai saja Mamat berada dikelas ini. Tawa nya pasti ku dengar setiap kali ada moment yang lucu.

Guru baru itu kembali menggelengkan kepala setelah menyuruh seisi kelas untuk kembali fokus pada apa yang ia terangkan. 

Tak ada masalah kali ini, setelah selesai dengan pelajarannya Guru baru itu menyuruh kami pulang. 

“Kak! Kak.” 

Mimin memanggil guru baru itu sebelum menghilang dibalik tembok.

“Ya?”

Sahutnya seraya melirikku. 

“Boleh minta nomornya gak?”

“Nomor?”

Mimin benar-benar sangat berani.

“Nomor Hape, Kak.” 

“Ehm, Maaf ya. Saya permisi.”

Detik itu juga raut wajah Mimin di tekuk.

“Hahaha kasian Mimin.”Aku tertawa seraya mengeluarkan ponsel.

“Berani-beraninyaaaa ngetawain gue!”

Teriaknya dengan menghentakkan kaki.

Aku kembali tertawa geli.

“Hari ini gue gak di jemput jah.”

“Lho? Kenapa?”

Tanya ku saat sampai di parkiran.

“Sopir Papi sakit.” 

“Assalamu’alaikum, Dijah.. Mimin.”

Aku menoleh cepat. “Waalaikumsalam, Mamat mau pulang ya.” tanya ku basa-basi.

“Iya jah.” 

Sahutnya. 

Aku melirik Mimin sekilas.

“Lo belum pulang jah, kenapa?”

“Ehm, ini Mimin katanya gak di jemput. Sopirnya sakit.” 

Mamat terdiam sejenak. “Kalo gitu bareng gue aja Min.”

Perasaan sesak tiba-tiba menyeruak, aku melirik Mimin yang juga menatapku. 

“Gak usah deh, Gue naik Ojek aja.” tolak Mimin.

“Gapapa sekalian, Gue juga mau kerumah sodara dulu. Kebetulan searah.”

“Udah Min, naik aja.”

Tambahku diliputi perasaan tak rela. 

Mimin memberikan kode lewat tatapan Mata, aku hanya mengangguk pelan. 

“Mau gak nih?”

Tanya mamat.

“Y-ya udah deh, iya.”

Aku mendesah pelan saat Mimin menaiki motor Mamat. Setelah basa-basi dan berpamitan, akhirnya Mamat melajukan motornya keluar dari area sekolah.

Cerita Romantis

Cemburu, seperti ini Rasanya.

Sesak Saat orang yang kita sukai berdekatan dengan oranglain sekalipun sahabat sendiri.

Dengan perasaan Cemas aku menaiki sepeda dan mengayuhnya. Bayangan Mamat dan Mimin mengobrol menari-nari dalam pikiran membuat hatiku terasa panas. 

TIIINN TIIIIN!

Suara klakson mobil membuatku sedikit terperanjat. 

Mobil berwarna Silver itu berhenti tepat di sampingku, kaca nya perlahan terbuka menampilkan Ratna, Adik tiri ku. Dan Sopirnya. 

“Eh Gendut!” 

Aku hanya menatapnya dengan datar tanpa menjawab, ia seringkali mencari gara-gara denganku. 

“Di panggil gak jawab, dasar budek.” 

Aku mendesah pelan. Tanpa menyahut aku kembali mengayuh sepeda ku. Namun, Ratna benar-benar mencari masalah. Ia turun dan menghadang jalanku.

“Ada apa lagi! Minggir!”

“Huh! Cuma pake sepeda aja belagu!”

Gertaknya.

“Mau apa lagi sih!” 

Tanpa di duga, Ratna Mengangkat bagian depan sepeda membuat aku kehilangan keseimbangan dan menjengkang jatuh. 

Tanganku mengepal kuat saat tawa nya menggema. “Hahaha enak gak? Makanya punya badan jangan gendut-gendut, menggelinding kan jadinya.” setelah mengatakan itu, ia kembali masuk kedalam mobil. Meninggalkanku di pinggir jalan.

“Dijah? Ngapain lo duduk disini?” 

Aku tersentak, segera ku hapus setitik airmata yang perlahan turun. 

“Lo nangis?” 

“E-enggak, kelilipan. Makanya dijah duduk dulu disini hehe.”

“Ada-ada aja dijah, sini gue bantu.” 

Muhammad Asep Awaludin, biasa di panggil Cecep. Teman sekelas Mamat, ia juga baik padaku.

Cecep mengangkat sepeda kemudian membantuku berdiri. “Makasih ya.” 

“Sama-sama, mau pulang kan?” 

Aku mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. 

“Barengan yah, gue gabawa motor sih.” 

“Ehm, iya boleh.”

Aku dan cecep berjalan beriringan. Sesekali kami mengobrol tentang pelajaran sekolah.

Aku tak terlalu dekat dengan teman-teman sekelas Mamat. Mereka bilang aku berisik hehe. 

“Kapan-kapan main kerumah gue jah.”

Cecep terkekeh saat aku bercerita kalau aku suka bunga. Ia bilang ibu nya seorang pecinta tanaman, Di rumahnya ada berbagai jenis tanaman dan bunga.

Cecep bercerita kalau ia selalu membantu ibu nya berkebun, itu membuatnya jarang bergabung bersama Mamat dan Arya.

“Emang boleh?”

“Boleh, apalagi kalo mau bantuin gue masukin tanah ke Polibag.”

“Idih, ternyata ada maksud tertentu!”

Cibirku.

Lagi-lagi Cecep tertawa. Ada apa? Kenapa dari wajahnya cecep terlihat senang. 

“Mau cilok gak jah?” 

Tawarnya saat melewati pedagang Cilok.

“Traktir ya?”

Aku terkekeh geli.

“Iya, gue lagi banyak duit nih.”

Sahutnya dengan Nada bangga. Ia bercerita kalau tanaman bunganya banyak yang diborong orang. Harganya sampai Jutaan. 

“Ck, belagu nya!”

Lagi, cecep tertawa. Apanya yang lucu?

Apa ia memang suka tertawa seperti itu?

Tak ingin menolak rezeki, aku menerima tawaran cecep untuk membeli Cilok. Tak lupa cecep juga membeli Es Kocok untuk minum.

Cilok 10 es kocok dua, totalnya 12ribu. Cecep segera membayar setelah itu kami berdua kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Sepanjang jalan kami berdua mengobrol, menilai seberapa enak Cilok itu. Cecep seorang humoris, candaanya mampu membuatku kembali tersenyum dan tertawa.

Tiit Tiit!

Sebuah klakson motor membuat langkah kami terhenti.

“Eh Mat, baru pulang lo?”

Tanya Cecep dengan mulut penuh cilok. 

“Iish! Cecep. Telen dulu baru ngomong!”

Tegurku. 

Mamat memperhatikan kami berdua. “Iyanih, barusan nganterin Mimin kerumahnya.” 

“Cieee pedekate ya lu sama si Mimin.” 

“Uhuk!”

Aku tersedak mendengar perkataan Cecep, kenapa panas sekali!

“Buset dijah! Pelan-pelan makannya.”

Cecep menepuk-nepuk punggungku.

Segera ku teguk Es kocok ditanganku sampai habis. “Haahh..”

“Bau Naga anjir!”

“Hahahaa. Dijah kan makan Cilok! Bukan makan naga!” Sahutku seraya memukul lengan Cecep. Lagi-lagi ia tertawa.

“Ehm, gue duluan ya.”

Tanpa menunggu jawabanku dan Cecep, Mamat kembali melajukan motornya. 

Cecep mengerutkan keningnya menatapku. “Kenapa si Mamat?”

“Kenapa apanya?”

Heranku.

“Yee koplak, gue kan mo nebeng!” 

Serunya. “Mat! Wooyy!”

“Hahaha di tinggalin.”

Aku tertawa melihat cecep kesal karena Mamat sudah terlanjur jauh. 

Penulis Cerita Cinta

berikan nilai artikel ini

Tinggalkan komentar