Cerita Cinta Kisah Nyata Berjudul I Love You Part 3 No ratings yet.

Cerita Cinta Kisah Nyata Berjudul I Love You Part 3

Cerita Cinta Bokeh Berjudul I Love You Part 3

“Jah, tolong anterin loundry’an itu ya.” 

“Ya ampuun buu, baru juga dijah istirahat.”

Aku menatap ibu dengan tatapan sebal. 15 menit yang lalu aku baru saja pulang sekolah.

“Kamu ini ya males banget kalo di suruh, mau ibu buang itu kaset kamu hah?”

Huh! Ibu benar-benar keterlaluan. Selalu saja mengancam akan membuang koleksi kaset-kasetku. Aku kan membelinya dengan hasil tabungan jajanku selama berbulan-bulan.

Ancamannya tak main-main, ia tak segan-segan menghancurkan Kaset DVD, serta album-album k-pop ku.

“Ya udah mana?”

Ucapku seraya menghentakkan kaki.

“Ini, Udah ibu catet disana nama-namanya.” 

“Gocengnya manaa?”

“Astaghfirullah dijah!”

Ibu melotot dengan tatapan kesal.

“Denger ya buu, Cuaca sore ini tuh panas banget. Ibu emangnya gak kasian kalo dijah kehausan? Kalo mati gegara-“

“Berisik!”

Aku tersenyum penuh kemenangan seraya memungut uang 5ribu yang ibu letakan di atas tumpukan baju. “Hehe Gomawo Eomaa~” 

★★☆★★

Tinggal satu paperbag lagi. Huh, Ibu memang tak pernah membiarkan aku bersantai jika ada di rumah, selalu saja ada yang harus aku kerja kan. 

Cerita Cinta Kisah Nyata 

Ibu pernah bilang bermalas-malasan itu tidak baik. alasan yang sangat Klasik dan biasa saja. Harusnya ketika di rumah aku bersantai, menonton Drama-drama Favoritku. Bukan mengayuh sepeda sepanjang jalan.

Kali ini lokasinya lumayan jauh.

Komplek Rajawali blok C, nomor 11. 

Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore.

Langit terlihat mendung, padahal tadi panas sekali. Aku harus cepat agar tak kehujanan. Bisa-bisa ibu kembali mengomel tanpa henti.

“Assalamu’alaikum.”

Sapa ku setelah sampai di rumah yang ku tuju.

Hening, tak ada jawaban. 

Aku mengetuk pintu dengan tak sabaran.

Tok! Tok! Tok!

“Permisiii~ Loundry loundry~” 

Sial! Kenapa lama sekali!

Aku ingin pulang.

“Assalamu’alaikum~ Spadaaaaa~” 

Teriakku

Samar-samar terlihat seseorang menyahut dari dalam. “Waalaikumsalam”

Ceklek!

Akhirnya pintu terbuka menampilkan sosok laki-laki dengan rambut berantakan.

“Lho?”

Guru baru? Kenapa ada disini?

“Pak Guru ngapain disini?”

Selidikku. 

Seolah baru sadar, ia menatapku dengan tatapan dingin.

“Ini rumah saya, kamu ngapain disini ganggu tidur saya!”

“Ya ampuun! Tidur yaa. Pantesan dijah gedor-gedor daritadi gak ada yang buka!” kesalku. Entah kenapa aku selalu kesal ketika melihat Guru baru yang tak ku tahu namanya itu. 

Cerita Cinta Kisah Nyata Berjudul I Love You Part 3

“Sshhtt! Diem!”

Guru baru itu memijat keningnya kemudian duduk di kursi. “Kamu? Ada apa kesini? Belum puas saya hukum?” tanya nya dengan nada menantang.

Huh? Guru macam apa ini?

“Dijah di suruh ibu anterin ini, punya pak guru? Tau gini males!” Aku meletakkan paperbag besar berisi baju itu dengan paksa.

“Kamu memang gak ada sopan santunnya Dijah!”

Aku tak peduli. Bertemu dengan guru baru itu membuat Mood ku semakin rusak!

“Ngapain kamu duduk disana?” 

Duduk saja tak boleh! Dasar pelit!

“Emangnya kenapa? Duduk doang, gabakalan rusak kok kursinya!” sahutku tak terima.

“Pulang sana, sudah mau hujan.” 

“Mana Uang loundry’nya? Dijah duduk disini nungguin uang tau!”

Detik berikutnya guru baru itu melangkah masuk kedalam rumah.

Siapa yang ingin berlama-lama disini? Jawabannya adalah Mimin. Aku yakin sekali Jika mimin aku ajak kesini pasti ia tak mau pulang.

★★★☆★★★

“Neol wihaeseolamyeon nan seulpeodo gippeun cheog hal suga iss-eosseo~”

“Neol wihaeseolamyeon nan apado ganghan cheog hal suga isseosseo~”

“Jangan kenceng-kenceng suara kamu gak enak di denger!” 

Ibu mengganggu acara karaoke ku. Ck, aku tak peduli.

“Salangi salangmaneulo wanbyeoghagil nae modeun yagjeomdeuleun da sumgyeojigil ilwojiji anhneun kkumsogeseo piul su eobsneun kkocheul kiwosseo~”

“Matiin Dvd nya!”

“I’m so sick of this Fake Love Fake Love Fake Love. I’m so sorry but it’s Fake Love Fake Love Fake Love~”

Brak!

“BERISIK DIJAH!”

Aarrgghh! Ibu menyebalkan!

“Apasih, ibu ganggu deh.”

Aku merenggut kesal ketika ibu berdiri di depan pintu kamarku. 

“Udah jam berapa ini! Bukannya tidur malah karokean!”

Mata ibu melotot seakan menembus wajahku, menyeramkan. “Iya iyaaa, tidur ini jugaa!”

“Awas kedengeran lagi ibu matiin lampunya.”

“Iyaa ibu! Udah sana keluar!”

Usirku saat hendak menutup pintu. Ibu mengomel sembari berjalan kembali keruang keluarga. 

Segera ku tutup pintu kamar, tak lupa ku kunci agar ibu tak masuk lagi.

Ting!

Ponselku berbunyi tanda pesan baru dari Aplikasi WhatsApp. Dengan malas aku segera membuka nya.

Seketika itu senyumku mengembang. Ternyata Mamat yang mengirim pesan.

-Muhammad RahmatQ-

[Assalamu’alaikum.] 

Hehe jari ku tak bisa diam, segera ku balas pesannya. [Waalaikumsalam.]

Pesanku sudah centang biru, Mamat sedang mengetik. Jari-jari ku tak sabar menunggu balasan pesannya. 

[Lagi apa jah, kok belum tidur.]

Aaa! Dijah lagi bete, tapi bete nya ilang gara-gara mamat WA! [Lagi tiduran aja Mat, ada apa?] 

[Ehm, Gapapa hehe.]

Ya ampuun, apaan sih Mamat.

[Gapapa gimana?] 

[Enggak jah.] 

[Oh. Mamat lagi apa?]

Pesanku belum juga di balas tapi Mamat Masih Online. Huh? Di abaikan lagi.

Mamat seringkali seperti itu, Mengirim pesan, kemudian mengabaikannya jika sudah di balas, apa maksudnya itu? Dasar Aneh!

Waktu sudah menunjukan pukul 21:15 aku harus segera tidur agar besok tak kesiangan. Mamat masih juga tak membalas pesanku. 

“Kalo gak niat chat, Gak usah chat! Bikin tambah bete aja sih Mamat!” gerutu ku seraya membuka Galery. 

Perlahan senyumku kembali mengembang memperhatikan Ekspresi-ekspresi Yang di tunjukan Mamat saat diam-diam aku memotretnya.

Ku hapus foto yang buram dan tak berbentuk. Aku terkekeh, di Galeryku hampir semua Foto Mamat. Beberapa yanglainnya foto kebersamaanku dengan Mimin dan teman-teman sekolah.

Setiap kali ada yang meminjam ponsel aku tak pernah memberikannya. Alasan di balik itu semua adalah karena aku takut ketahuan.

Di dalam ponsel ini semua rahasia ku Aman terjaga. Suara Mamat, Foto dan Video. Aku menyimpannya dengan Rapi. Ponselku tak boleh di sentuh siapapun.

“Semoga Mamat Mimpiin Dijah.”

Gumamku sebelum akhirnya menutup mata.

-TBC-

berikan nilai artikel ini

Tinggalkan komentar